Senin, 05 Desember 2011

PRAGMATIK

1.      Definisi Pragmatik
            Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.
Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian, pertama, dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Selanjutnya Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction).
Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme, yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik; pragmatisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik; dan komplementarisme, atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi.


2.      Perkembangan Pragmatik

            Mey (1998), seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5), mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi, yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme; (2) kecenderungan sosial-kritis; (3) tradisi filsafat; dan (4) tradisi etnometodologi.
Kecenderungan yang pertama, yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross, menolak pandangan sintaksisme Chomsky, yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis, dan bahwa fonologi, morfologi, dan semantik bersifat periferal. Menurut Lakoff dan Ross, keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya, sebab, seperti sering kita jumpai, komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed), bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6).
Kecenderungan kedua, yang tumbuh di Eropa, tepatnya di Britania, Jerman, dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)), muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan, bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri.
Tradisi yang ketiga, yang dipelopori oleh Bertrand Russell, Ludwig Wittgenstein, dan terutama John L. Austin dan John R. Searle, adalah tradisi filsafat. Para pakar tersebut mengkaji bahasa, termasuk penggunaannya, dalam kaitannya dengan logika. Leech (1983: 2), seperti dikutip Gunarwan (2004: 7), mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa, misalnya Austin, Searle, dan Grice, dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross.
Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi, yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Dalam etnometodologi, bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya, melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Dengan kata lain, kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi, bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6).


3.      Aspek-aspek Pragmatik

 Humor seperti dijelaskan sebelumnya, sangat berkait dengan konteks situasi tutur yang mendukungnya, oleh karena itu, dalam mengkajinya perlu dipertimbangkan beberapa aspek situasi tutur seperti di bawah ini.

a.       Penutur dan lawan tutur
     Konsep penutur dan lawan tutur ini juga mencakup penulis dan pembaca bila tuturan yang bersangkutan dikomunikasikan dalam bentuk tulisan. Aspek-aspek tersebut adalah usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dan sebagainya.

b.      Konteks tuturan
     Konteks di sini meliputi semua latar belakang pengetahuan yang diperkirakan dimiliki dan disetujui bersama oleh penutur dan lawan tutur, serta yang menunjang interpretasi lawan tutur terhadap apa yang dimaksud penutur dengan suatu ucapan tertentu.

c.       Tujuan tuturan
     Setiap situasi tuturan atau ucapan tentu mengandung maksud dan tujuan tertentu pula. Kedua belah pihak yaitu penutur dan lawan tutur terlibat dalam suatu kegiatan yang berorientasi pada tujuan tertentu.

d.      Tuturan sebagai bentuk tindakan dan kegiatan tindak tutur                
     Dalam pragmatik ucapan dianggap sebagai suatu bentuk kegiatan yaitu kegiatan tindak ujar. Pragmatik menggarap tindak-tindak verbal atau performansi-performansi yang berlangsung di dalam situasi-situasi khusus dalam waktu tertentu.

e.       Tuturan sebagai produk tindak verbal
     Dalam pragmatik tuturan mengacu kepada produk suatu tindak verbal, dan bukan hanya pada tindak verbalnya itu sendiri. Jadi yang dikaji oleh pragmatik bukan hanya tindak ilokusi, tetapi juga makna atau kekuatan ilokusinya. (Leech, 1993:19)

f.       Presuposisi, Implikatur, dan Entailment
     Lubis (1991:59) mengatakan bahwa yang disebut presuposisi (praanggapan) adalah hakikat rujukan yang dirujuk oleh kata atau frasa atau kalimat. Maksudnya kalau ada suatu pernyataan, maka selalu ada presuposisi bahwa nama-nama (atau kata benda) yang dipakai baik secara sederhana maupun majemuk mempunyai suatu rujukan.
     Pertimbangan aspek-aspek situasi tutur seperti di atas dapat menjelaskan keberkaitan antara konteks tuturan dengan maksud yang ingin dikomunikasikan.


Teori Tindak Tutur

Tindak tutur dilakukan setiap orang sejak bangun pagi sampai tidur kembali. Ribuan kalimat telah diucapkan selama 16 atau 18 jam setiap hari. Tidak pernah dipikirkan bagaimana terjadinya kalimat-kalimat yang diucapkan, kenapa kalimat tertentu diucapkan, bagaimana kalimat itu dapat diterima lawan tutur dan bagaimana lawan tutur mengolah kalimat-kalimat itu kemudian memberikan jawaban terhadap rangsangan yang diberikan, sehingga dengan demikian dapat berdialog berjam-jam lamanya. Searle mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yaitu tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi (Wijana, 1996:17).

1)   Tindak Lokusi (locutionary act)
Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tuturan ini disebut sebagai The act of saying something. Dalam tindak lokusi, tuturan dilakukan hanya untuk menyatakan sesuatu tanpa ada tendensi atau tujuan yang lain, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Tindak lokusi relatif mudah untuk diindentifikasikan dalam tuturan karena pengidentifikasiannya cenderung dapat dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan yang tercakup dalam situasi tutur (Parker melalui Wijana, 1996:18). Dalam kajian pragmatik, tindak lokusi ini tidak begitu berperan untuk memahami suatu tuturan.

2)   Tindak Ilokusi (illocutionary act)
Tindak ilokusi ialah tindak tutur yang tidak hanya berfungsi untuk menginformasikan sesuatu namun juga untuk melakukan sesuatu. Tuturan ini disebut sebagai  The act of doing something. Contoh, kalimat ‘Saya tidak dapat datang’ bila diucapkan kepada teman yang baru saja merayakan pesta pernikahannya tidak saja berfungsi untuk menyatakan bahwa dia tidak dapat menghadiri pesta tersebut, tetapi juga berfungsi untuk melakukan sesuatu untuk meminta maaf. Tindak ilokusi sangat sukar dikenali bila tidak memperhatikan terlebih dahulu siapa penutur dan lawan tutur, kapan dan di mana tindak tutur itu terjadi, dan sebagainya.

Searle dalam Leech (1993:164-166) membagi tindak ilokusi ini menjadi lima yaitu asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklarasi.
a.   Tindak asertif merupakan tindak yang menjelaskan apa dan bagaimana sesuatu itu adanya, artinya tindak tutur ini mengikat penuturnya pada kebenaran atas apa yang dituturkannya (seperti menyatakan, mengusulkan, melaporkan)
b.   Tindak komisif ialah tindak tutur yang berfungsi mendorong penutur melakukan sesuatu. Ilokusi ini berfungsi menyenangkan dan kurang bersifat kompetitif karena tidak mengacu pada kepentingan penutur tetapi pada kepentingan lawan tuturnya (seperti menjanjikan, menawarkan, dan sebagainya)
c.   Tindak direktif yaitu tindak tutur yang berfungsi mendorong lawan tutur melakukan sesuatu. Pada dasarnya, ilokusi ini bisa memerintah lawan tutur melakukan sesuatu tindakan baik verbal maupun nonverbal (seperti memohon, menuntut, memesan, menasihati)
d.   Tindak ekspresif merupakan tindak tutur yang menyangkut perasaan dan sikap. Tindak tutur ini berfungsi untuk mengekspresikan dan mengungkapkan sikap psikologis penutur terhadap lawan tutur (seperti mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam)
e.   Tindak deklaratif ialah tindak tutur yang berfungsi untuk memantapkan atau membenarkan sesuatu tindak tutur yang lain atau tindak tutur sebelumnya. Dengan kata lain, tindak deklaratif ini dilakukan penutur dengan maksud untuk menciptakan hal, status, keadaan yang baru (seperti memutuskan, melarang, mengijinkan).
            Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa pemahaman terhadap tindak ilokusi merupakan bagian sentral untuk memahami tindak tutur.

3)   Tindak Perlokusi (perlocutionary act)
            Tindak perlokusi yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat (Nababan dalam Lubis, 1999:9). Tuturan ini disebut sebagaiThe act of affecting someone. Sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force) atau efek bagi yang mendengarnya. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya. Tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tutur disebut dengan perlokusi. Tindak perlokusi ini biasa ditemui pada wacana iklan. Sebab wacana iklan meskipun secara sepintas merupakan berita tetapi bila diamati lebih jauh daya ilokusi dan perlokusinya sangat besar.

3.   Maksim-maksim Percakapan Grice
            Salah satu kaidah berbahasa adalah seorang penutur harus selalu berusaha agar tuturannya selalu relevan dengan konteks, jelas, dan mudah dipahami sehingga lawan tuturnya dapat memahami maksud tuturan. Demikian pula dengan lawan tutur, ia harus memberikan jawaban atau respons dengan apa yang dituturkan oleh penutur. Bila keduanya tidak ada saling pengertian maka tidak akan terjadi komunikasi yang baik. Oleh sebab itu diperlukan semacam kerja sama antara penutur dengan lawan tutur agar proses komunikasi itu berjalan secara lancar.
           
            Grice mengemukakan bahwa dalam rangka melaksanakan prinsip kerja sama itu, setiap penutur harus mematuhi empat maksim percakapan (conversational maxim), yaitu maksim kuantitas (maxim of quantity), maksim kualitas (maxim of quality), maksim relevansi (maxim of relevance) dan maksim pelaksanaan (maxim of manner) (Wijana 1996:46).

1)      Maksim Kuantitas
            Maksim ini mengharapkan agar peserta tutur memberikan respons atau jawaban secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan lawan tutur saja. Contohnya ketika seseorang ditanya siapa namanya, maka dia tidak perlu memberikan jawaban selain informasi tentang namanya, seperti alamat, status, dan lain sebagainya.

2)      Maksim Kualitas
            Maksim percakapan ini mengharuskan setiap partisipan komunikasi mengatakan hal yang sebenarnya. Artinya jawaban atau respons hendaknya didasarkan pada bukti yang memadai. Contohnya ketika seorang murid ditanya gurunya apa ibukota Jepang, maka dia kalau memang tahu harus menjawab Tokyo, karena hal tersebut tidak terbantahkan lagi. Namun bisa saja terjadi kesengajaan, seorang penutur melanggar maksim kualitas ini. Hal ini tentu mempunyai maksud seperti menimbulkan efek lucu (Wijana, 1996:49).

3)      Maksim Relevansi
            Maksim relevansi mewajibkan setiap peserta tutur memberikan kontribusi relevan dengan pokok pembicaraan. Maksim relevansi menekankan keterkaitan isi tuturan antar peserta percakapan. Setiap peserta percakapan saling memberikan kontribusi yang relevan dengan topik pembicaraan sehingga tujuan percakapan dapat tercapai secara efektif. Namun terkadang secara tersurat (eksplisit) respons yang diberikan tidak terlihat relevansinya dengan pokok pembicaraan, karena sudah ada latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang sama antara penutur dan lawan tutur maka komunikasi masih tetap bisa berjalan. Dengan kata lain, yang tersurat (eksplisit) nampak tidak relevan namun, yang tersirat (implisit) sebenarnya relevan.

4)      Maksim Pelaksanaan atau Maksim Cara
            Maksim pelaksanaan mengharuskan setiap peserta percakapan berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak taksa, secara runtut dan tidak berlebih-lebihan. Bila hal ini dilanggar, biasanya penutur mempunyai tujuan tertentu, misalnya mengelabuhi, menimbulkan efek lucu.



Minggu, 04 Desember 2011

ESTETIKA

1.      Jelaskan pengertian estetika
Estetika adalah ilmu tentang keindahan, estetika berarti indah.
Ilmu dasar estetika memperdasarkan keserasian dan kontras.
Syarat indah
·         Serasi yaitu imbang antara satu dengan yang lain / saling melengkapi
·         Kontras (warna / bentuk)

2.      Jelaskan apa yang dimaksud dengan katarsis dan berikan contohnya?
Katarsis adalah luapan emosi, perasaan setelah menyaksikan drama tragedi. Katarsis adalah pembebasan dari kesulitan dan ketegangan jiwa yang sedang menekan manusia. Katarsis berupa sentakan emosi, kejutan, tak terduga sebagai emosi yang memuncak lalu menurun. Biasa juga diartikan sebagai puncak dan tujuan karya seni drama dalam bentuk tragedi disamping menikmati keindahan dalam menyaksikan kesenian.
Contoh katarsis
Ketika saya melihat tayangan Bleach saat tokoh utama yang bernama Ichigo Kurosaki bertarung dengan capten ke11 Kenpachi Zaraki, keduanya menggunakan kekuatan yang maksimal sampai mencapai titik bankai yaitu kekuatan tertinggi dewa kematian dan saling beradu pedang hingga pedang Zaraki patah dan keduanya bermandikan darah karena luka pedang dan daerah sekitar hancur rata tanah, pertarungan tersebut usai dan keduanya pingsan.
Katarsis tersebut terjadi saat perasaan luapan emosi saya  yang membuat tegang melihat drama tersebut. (handout estetika oloeh Yusra Edy Nugroho,S.S.M,Hum , 2009)




3.      Deskripsikan wujud estetis sebuah karya seni  arsitektur
Estetika dalam arsitektur dirumuskan sebagai refleksi kritis tentang alam alamiah dan alam binaan yakni karya seni, budaya khususnya arsitektur. Estetika dalam arsitektur sebagai kajian nilai-nilai emosi inderawi tentang penilaian keindahan arsitektur secara objektif dan bukan atas landasan selera. Arsitektur dan segala pembahasan tentangnya seringkalij, ika tak dapat dikatakan selalu berkaitan erat dengan keindahan. Keindahan merupakan bagian tak terpisahkan dari arsitektur, terlepas dari berbagai standar tentang keindahan itu sendiri. Seperti telah kita ketahui, keindahan merupakan bagian dari kemampuan estetis (rasa) dalam diri manusia dan merupakan bagian terpenting dalam bidang kajian seni. Walaupun demikian, konsep keindahan dalam arsitektur ini bukanlah keindahan yang semata-mata berakhir pada penilaian akan bentuk yang kasat mata saja. Dalam bahasa Seyyed Hossein Nasr, terdapat pandangan-dunia (worldview) Islam yang mempengaruhi seni dan arsitektur islami secara umum. Karenanya, kelahiran citarasa artistik yang universal dalam arsitektur islami dan bentuk-bentuk seni lainnya, dengan segala ide jeniusnya, perbedaan karakteristik dan homogenitas formalnya, menyangkut perbedaan budaya, geografis dan sifat temporal, tentu bukan lahir secara kebetulan belaka (Nasr, 1993: 13-14).

4.      Lingga dan yani adalah estetika simbolicum yang cukup popular di jawa, jelaskan makna estetika karya tersebut?
Setiap organisme mempunyai pengalamannya sendiri dan karena itu memiliki dunianya sendiri. Gejala-gejala yang kita lihat dalam spesies biologis tertentu tidak dapat diterapkan kepada spesies-spesies lainnya. Dengan kata lain antara struktur biologis suatu organisme dengan lingkungan yang dihadapinya sangatlah sesuai dan tepat. Berangkat dari perspektif biologis gaya Von Uexkull inilah Ernst Cassirer meneliti pola kehidupan yang secara khas manusiawi. Menurut Cassirer, dunia manusiawi meskipun mengikuti hukum-hukum biologis sebagaimana semua kehidupan organisme lainnya. Diantara sistem reseptor dan sistem efektor yang terdapat pada semua spesies binatang, pada manusia terdapat mata rantai yang mungkin dapat kita sebut sebagai sistem simbolis. Dengan pencapaian baru ini, maka kehidupan manusia segera mengalami perubahan yang sangat fundamental sekali. Manusia benar-benar hidup dalam dimensi realitas yang baru. Pemikiran simbolis dan tingkah laku simbolis merupakan ciri khas yang betul-betul khas manusiawi dan seluruh kemajuan kebudayaan manusia mendasarkan diri pada kondisi-kondisi itu. Dari sinilah manusia menyusun realitas kebudayaannya yang secara umum merupakan hasil dari proses simbolisasi dalam hidup dan kehidupannya. Oleh karenanya apabila kita ingin mengetahui realitas terdalam dari hidup dan kehidupan manusia hendaknya kita telurusi dari kemampuan simbolisnya ini. Dari dasar pandangan ini Ernst Cassirer kemudian merumuskan definisi baru terhadap hakekat manusia yakni, Animal Symbolicum (hewan yang bersimbol). Lingga dan Yani adalah manusia yang berarti mempunyai estetika simbolicum, yaitu Animal Symbolicum. (handout estetika oleh Yusro edy nugroho.S.S.M.Hum, 2009)

5.      Jelaskan keindahan yang dapat anda tangkap dari sebuah karya sastra jawa?
Karya sastra jawa memiliki ciri struktur estetik dan ciri ekstra estetiknya, ciri struktur estetiknya meliputi alur, penokohan, (teknik) latar, pusat pengisahan, gaya bercerita, dan gaya bahasa. Ciri ekstra estetiknya meliputi “bahan-bahan” karya sastra seperti masalah, pemikiran, filsafat, pandangan hidup, gambaran kehidupan, bahkan termasuk bahasanya sendiri.
Ciri-ciri Struktur Estetiknya
  • Gaya bahasanya menggunakan perumpamaan klise, pepatah-pepatah, dan peribahasa, namun menggunakan sebagian besar didomiasi bahasa percakapan sehari-hari.
  • Alur Roman sebagaian alur lurus
  • Teknik penokohan dan perwatakanya banyak dipergunakan teknik analisis langsung (direct author analysis) dan deskripsi fisik contoh: tokoh-tokonya berwatak datar (flat character).
  • Latar cerita umumnya kehidupan daerah terutama di kerajaan (keraton).
  • Pusat pengisahannya pada umumnya menggunakan metode orang ketiga(author omniscient).
  • Banyak digresi, yaitu banyak sisipan-sisipan yang tidak langsung berhubungan dengan inti cerita seperti:
Ø  cerita Serat Riyanta juga menceritakan kehidupan R A Srini kekasih dari R M Riyanta.
Ø  Dan Suluk Syekh Wali Lanang, selain menceritrakan tokoh utamanya yaitu syekh maulana iskhaq (ayah sunan Giri/ Raden Paku) juga menceritakan tiga perampok bernama Barep Jabarut alias Jaran jenar, Panengah Nahut alias Ludira Peteng, Wuragil lahut sebagai gagak Rubeka yang selalu membuat ulah di kerajaan Blambangan serta kehidupan kecil Dewi Sekardadu (istri dari Syekh Maulana Iskhaq).
Ø  Kakawin Sumanasantaka  yang menceritakan kisah aja dan indumati, tetapi juga disisipkan kisah cinta dari jayawaspa dan kawidosa para abdi tokoh utama cerita.
  • Bersifat didaktis, sifat ini berpengaruh sekali terhadap gaya penceritaan dan struktur penceritaannya, semuanya ditunjukan kepada pembaca untuk memberi nasehat.
  • Bercorak romantis, melarikan diri dari masalah kehidupan sehari-hari yang menekan.
(sumber handout teori sastra oleh Teguh Supriyanto, 2009)

6.      Buatlah kategaori-kategori untuk mengukur keindahan didalam kegiatan pembacaan geguritan/puisi
Menurut saya setelah mendapat pelajaran estetika selama satu semester dan setelah melihat komentar geguritan di blog http://estetikajawa.blogspot.com/2009/02/7-geguritan.html#comments
Harus dipersiapkan dari awal:
1)      Dalam mencipta suatu karya sastra apapun bentuknya, termasuk bikin syair lagu. Kita harus terjun tuntas keobyek cerita yang kita angkat. Seakan kita hadir disitu, maka rasa atau intuisi kita harus hadir disitu.
2)      Setelah rasa hadir otomatis kita mampu membawa jiwa kita keapa yang kita mau.
3)      Keindahan bahasa? menggunakan gaya bunyi, gaya kata, gaya kalimat, dan majas misalnya metafora lan personifikasi. Yang dapat membedakan antara puisi dan prosa saya rasa sangat relatif. karena apa yang dimaksud pengarang satu maupun yang lain akan berbeda. Apakah dengan hiperbola ataupun bahasa sehari hari. selama kita tidak keluar dari kerangka cerita atau tema.masih sah sah saja.
4)      Suara supra segmental dan segmental, yang meliputi jeda, nada/intonasi, lafald/pengucapan, dan panjang pendeknya suara.
5)      Gagasan apa yang akan diungkapkan atau sering disebut tema lan amanat,
6)      Menggunakan alur yang lurus sehingga tidak menyimpang dari tema dan amanat
7)      Digunakan untuk siapa, serta tokohnya siapa sipenulis sendiri atau orang lain.
8)      Setting waktu dan latar cerita yang digunakan jelas
Nilai keindahan dalam geguritan ini dimunculkan oleh penulis gurit melalui gaya bahasa yang digunakan, serta amanat yang berupa petuah atau nasihat bagi para pembaca.
Geguritan ini juga memunculkan nilai estetis yang menjadikan pembaca tertarik dan memahami isi dari geguritan. Jadi dapat diambil suatu kesimpulan bahwa dalam sebuah karya sastra dalam kaitannya dengan geguritan disini pastilah terdapat suatu nilai estetis atau nilai keindahan yang merupakan unsur penting dalam baik atau tidaknya, sempurna atau tidaknya, menarik atau tidaknya suatu karya sastra(geguritan).  Karya sastra dianggap sebagai karya yang menampilkan kualitas estetis yang paling beragam sekaligus paling tinggi, karena didalamnya memiliki banyak genre dan genre tersebut bersifat dinamis sehingga setiap genre melahirkan genre yang baru.


7.      Jelaskan dengan disertai contoh konsep bhava rasa
1)      Bhava rati bermakna kenikmatan dan rasa sengara yang bermakna erotis warna bhava rasa tersebut biru tua dan dilambangkan dewa Wisnu.
Film India yang banyak menampilkan kenikmatan erotis, pada saat nyanyian dan tarian para tokoh cerita ( dalam hal ini saya menganalisis film dhoom) yang dibarengi oleh wanita dan pria yang banyak menampilkan adegan-adegan erotis yang menimbulkan kenikmatan penonton.
2)      Bhava hasa bermakna humor dan rasa hasya bermakna lucu, warna bhava rasa tersebut putih dan lambang bhava rasa tersebut dewa Pramatha.
Teman dhoom yang plinplan dan ceroboh sehingga terpeleset saat bergaya seperti dhoom, serta saat merayu cewek ia malah membuat cewek yang ditaksirnya marah akibat kata-kata yang salah diucapkannya yang menjurus kata-kata jorok.
3)      Bhava soka yang bermakna kesedihan, rasa karuna yang bermakna haru/sedih, warna seperti putihnya burung merpati. Dewa yang dilambangkan Yama.
Ketika dhoom bertemu dengan ibunya yang sudah lama tidak berjumpa semasa kecil.
4)      Bhava krodha bermakna kemarahan, rasa raudra yang bermakna marah/ngeri, warna merah dan dilambangkan dewa Rudra.
Mungsuh dhoom yang mencoba menghancurkan tempat pesta akbar, serta saat mungsuh dhoom
5)      Bhava utsaha bermakna keberanian, rasa vira bermakna antusias/heroik, warna kuningan dewa Mahendra.
Biasanya adegan-adegan action baik saat bperkelahian, perang dan konflik lainnya, misalnya pada fil dhoom
·         Dhom meloncat dari tebing.
·         Adegan Dhoom mengendarai motor (adu balap) dengan mnusuhnya
6)      Bhava bhaya bermakna ketakutan, rasa bhayanaka yang bermakna takut, warna hitam dilambangkan dewa Kala.
Ketika tokoh utama terjebak dalam kesusahan, dan mara bahaya yang hamper merengkut nyawa.
7)      Bhava jugupsa bermakna kejijikan, rasa vibhatsa yang mempunyai makna jijik/muak dilambangkan warna biru dan dilambangkan dewa Mahakala.
Saat terjadi pertumpahan darah baik tokoh antagoinis maupun tokoh protagonis
8)      Bhava vismaya bermakna keheranan, rasa adbutha bermakna takjub/heran, warna kuning dan dilambangkan dewa Brahma.
Si tokoh utama meloncat dari tempat yang tinggi.
Dari kedelapan bhava rasa tersebut mempunyai gabungan berupa bhava nirveda/samaveda bermakna ketenangan, rasa santa bermakna gembira,tenang, warna gabungan dan dilambangkan dewa Siwa. Sehinnga saat saya melihat fil india (dhoom) hati saya terasa terhibur dan seolah-olah ikut dalam alur cerita tersebut.

8.      Uraikan pemahaman anda tentang estetika dalam karya sastra jawa kuna
Estetika dalam karya sastra jawa kuna sumber keindahan adalah Tuhan. Tiga aspek dalam kaitannya dengan konsep keindahan, yaitu:
a)    aspek ontologis, keindahan sebagai citra Tuhan Yang Maha Esa,
b) aspek imanen, terungkap melalui kata-kata seperti ajaib, gharib, dan tamasya, sebagaimana tampak dalam lukisan alam,
c)   aspek psikologis atau pragmatis, yaitu efek pada pembaca, seperti: heran, berahi, lupa dan pelipur lara.
Estetika sastra berkaitan dengan bahasa sebagai sistem simbol di satu pihak, dan hakikat sastra itu sendiri, yaitu sebagai fiksi di pihak yang lain. Esetetika budaya, pertama, jelas terkandung dalam karya sastra dan karya seni yang lain sebab karya sastra dan seni pada umumnya merupakan bagian integaral kebudayaan. Kedua, seluruh aspek kebudayaan itu, baik dalam bentuk fisik maupun mental dan tingkah laku, baik konkret maupun abstrak, menampilkan ciri-ciri keindahan. Pada intinya dapat dikatakan bahwa relasi estetika, sastra dan budaya adalah aspek-aspek terpenting yang diperlukan oleh manusia dalam rangka mempertahankan keseimbangan antara dimensi jasmani dan rohani. Sejatinya, manusia tidak akan bisa hidup tanpa keindahan.
Karya sastra jawa beebebtuk kakawin, Kakawin dibedakan lagi pada penggolongan kakawin yang berupa tradisi Jawa serta tradisi non Jawa, yang dimaksud tradisi Jawa di sini menurut Zoetmulder adalah kakawin-kakawin yang dihasilkan pada periode Jawa kuno yaitu dari jaman Kediri sampai Majapahit dan disebut sebagai kakawin mayor, termasuk di dalamnya karya sastra Jawa pertengahan. Sedangkan kakawin-kakawin yang diproduksi setelah itu dan berkembang serta dikembangkan di luar Jawa khususnya Bali disebut kakawin-kakawin minor. Ada perbedaaan mencolok antara tradisi kakawin-kakawin mayor dan minor yang disampaikan Zoetmulder, secara garis besar disampaikan sebagai berikut
Kakawin mayor :
·         Banyak penggambaran tentang waktu dan musim
·         Penggambaran tentang flora dan fauna
·         Penggambaran pedesaan dan istana raja
·         Kesatuan alam semesta
Kakawin minor :
·         Penggambaran perumpamaan yang klise dan kaku
·         Adegan-adegan di medan peperangan diperpanjang
·         Penokohan dari yang kurang jelas dan pas dalam kaitannya dengan watak lawan-lawan tokoh utama.
·         Semakin berkurangnya pengetahuan tentang bahasa sansekerta.

ANALISIS TAFSIR SERAT WULANGREH


BAB  I
SUNAN  PAKU  BUWANA  IV  SINUWUN
PAKU  BUWANA  IV  SERAT  WULANGREH

A.  RAJA  PINANDHITA
Sunan Paku Buwana IV adalah Narendra Pinandhita yang mengarang Serat Wulangreh. Bratadiningrat (1990) menulis riwayat Sinuwun Paku Buwana IV (1788 –1820) dalam Bahasa Jawa sebagai berikut : Sinuwun Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Jawa Senapati Ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panata Gama Khalifatullah Ingkang Kaping IV Ing Negari Surakarta Hadiningrat, sinebut Sunan Bagus, putra dalem Sinuwun Paku Buwana III, ingkang nomer 17 miyos saking Praweswari Ratu Kencana. Asma timur B.R.M. Gusti Subadya.
Raja dan kraton merupakan pusat atau inti kekuasaan dalam pandangan orang Jawa dalam abad – abad lampau. Narendra atau ratu dalam hal ini dilihat sebagai personafikasi Tuhan. Sementara kraton dianggap sebagai wadah yang menampung semua kekuatan supranatural. Dengan demikian, kombinasi antara narendra dan kraton merupakan “ pusat “ dari pusatnya kekuasaan. Dan memang, sesungguhnyalah, narendra dan kraton tidak bisa dipisah – pisahkan satu sama lain.
Keutuhan narendra dan kraton bukan saja dapat dilihat sebagai refleksi dari keutuhan kekuasaan, akan tetapi juga mengungkapkan ada kesatuan dan keteraturan tata kosmos (jagat raya) yang mereplikasikan dirinya ke dalam bangunan kekuasaan narendra dan kraton (Fachry Ali, 1986). Pandangan kekuasaan semacam ini sesungguhnya sangat erat sekali kaitannya dengan pandangan lingkungan masyarakat Jawa lampau. Bagi mereka, lingkungan bukan hanya kenyataan – kenyataan obyektif yang bisa ditangkap oleh panca indra, melainkan lebih universal sifatnya. Universal, dalam arti kenyataan – kenyataan hidup yang dapat ditangkap oleh panca indra secara utuh, menyatu dengan hal – hal yang tidak bisa ditangkap oleh panca indra. Dalam kata lain, realitas tidak dibagi dalam bagian yang terpisah – pisah dan tanpa hubungan satu sama lain, melainkan bahwa realitas dilihat sebagai sesuatu yang menyeluruh.
Pada hakikatnya, orang Jawa lampau tidak membedakan antara sikap – sikap religius dan bukan religius. Bahkan interaksi – interaksi social; sekaligus merupakan sikap terhadap alam. Sebaliknya sikap terhadap alam sekaligus mempunyai relevan social. Antara pekerja, interaksi dan doa tidak ada perbedaan prinsip hakiki (Fachry Ali, 1986). Dengan demikian, lingkungan dalam pandangan Jawa masa lampau menjadi sesuatu yang amat penting. Dia merupakan basis kehidupan yang meliputi individu, masyarakat dan alam sekitarnya. Ke semua unsur lingkungan itu menyatu dalam alam adi kodrati (supernatural). Pentingnya lingkungan ini adalah sebab, kelanjutan dan kontinuitas kehidupan sepenuhnya terletak atau berada dalam lingkungan. Keteraturan ini sendiri merupakan refleksi dari konsep system kepercayaan Jawa, yang mengemukakan bahwa kehidupan yang terkoordinasi antara manusia dan alam sekitarnya merupakan system kehidupan yang didambakan.
Serat Wulangreh karangan Sri Susuhunan Paku Buwana IV di Surakarta Hadiningrat tentang Pendidikan Budi Pekerti merupakan warisan leluhur yang bernilai tunggal yang perlu diselesaikan. Pendidikan Budi Pekerti tersebut Bermatra Ganda (Multi Dimensional) yang berbentuk system – system ajaran yang antara lain meliputi : Sistem “ Latihan “ mengurangi makan dan tidur. System “ Paradoks “ yang menunjukkan adanya perbedaan antara dua kutup yang umum disebut bertentangan, seperti : pria/wanita, siang/malam, kaya/miskin, pintar/bodoh, sehat/sakit, sengsara/bahagia, mujur/malang, positif/negatif, aktif/pasif, hidup/mati, harapan/putus asa, dan lain – lain (T. Hadiwirjanto, 2002). Sistim “ awal – akhir “ yang memahami bahwa gejala awal yang buruk akan bermuara pada hasil akhir yang baik, dan sebaliknya gela awal yang baik justru menghasilkan buah yang buruk. Dengan demikian manusia akan mengalami hidup yang lengkap (utuh) (T. Hadiwirjanto, 2002).

B.  SUNAN  BAGUS
Pada 1788, Sinuwun Paku Buwana III digantikan oleh Sinuwun Paku Buwana IV yang memiliki tradisi yang berbeda dengan sunan – sunan sebelumnya. Perubahan itu diadakan dalam rangka menjawakan kehidupan masyarakat, antara lain, sebagai berikut. Pakaian prajurit yang sebelumnya seperti pakaian prajurit Belanda diganti pakaian prajurit Jawa. Setiap hari Jum’at, Sunan bersembahyang di Masjid Besar. Setiap hari Sabtu diadakan latihan warangan. Setiap abdi dalem yang menghadap narendra diwajibkan berpakaian santri. Mereka yang tidak patuh dipecat.
Mengangkat adik – adiknya menjadi pangeran, seperti Raden Mas Tala menjadi Pangeran Mangkubumi ; Raden Mas Sayidi menjadi Pangeran Arya Buminata tanpa izin Sultan, Mangkunegara, atau Kompeni. Tindakan Sunan itu didalangi oleh Bahman, Wiradigda, Panengah, Nursaleh, Raden Santri, Kandhuruwan. Oleh sebab itu, kota Surakarta dikepung pasukan Sultan, Mangkunegaran, dan Kompeni. Kejadian ini dilukiskan oleh Yasadipura II dalam Serat Babad Pakepung (Mulyanto, dkk, 1990).
Dalam masa Pakepung itu Belanda menuntut supaya keenam orang yang mendalangi Sunan diserahkan sebagai tawanan. Apabila tidak dipenuhi, Surakarta akan diserbu oleh tentara gabungan yang terdiri atas tentara Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Kompeni. Akibat tekanan tersebut, akhirnya Sunan tunduk kepada Belanda. Demi pengamanan daerah, pada tanggal 22 September 1788, Sunan menandatangani perjanjian yang isinya sebagai berikut : Dalam setiap menghadapi segala masalah, Sunan dan Kompeni harus menghadapi bersama dalam ikatan persaudaraan. Pengangkatan Patih atau Pangeran Adipati Anom harus mendapat persetujuan dari Kompeni melalui Gubernur di Semarang atau Residen di Surakarta.
Dalam konsep kesatuan dan keteraturan ini, tidaklah dihayati sebagai kejadian yang berdiri sendiri – sendiri, oleh sebab setiap masing – masing yang merupakan bagian dan totalitas yang dikoordinasikan oleh kekuatan supranatural (kekuatan gaib). Memahami kenyataan yang semacam inilah yang disebut kasunyatan. Suatu kenyataan yang lahir oleh sebab akibat yang pada akhirnya berhubungan dengan penyebab tunggal.
Sebab itulah, alat pemahaman terhadap kenyataan itu tidak cukup hanya dengan panca indra atau akal, melainkan juga dengan hati (Fachry Ali, 1986). Dengan demikian, lewat cara manapun, segala hal yang dilihat yang dilihat lewat pikiran, tetap saja bahwa kondisi – kondisi kosmis dan duniawi timbul sebab keteraturan dan koordinasi. Peristiwa – peristiwa ditimbulkan oleh struktur yang terkoordinasi : kraton dibangun sesuai dengan tata kosmos. Pada analisa terakhir, kebenaran realitas lingkungan adalah masalah spiritual dan bukan masalah material yang kasat mata, melainkan adalah masalah batin, yang merupakan percikan hakikat kosmos yang meliputi segala – galanya, atau urip. Realitas materi dari suatu lingkungan tak lain adalah dan hanyalah bagian cerminan dari system sebab akibat yang lebih tinggi. Paham Jawa tentang kasunyatan meliputi baik kondisi – kondisi kasar maupun yang halus menyangkut kebenaran dan hakikat (realistik terakhir).
Kasunyatan adalah realitas sehati, jelas, dan self evident, menjadi sebab akibatnya sendiri (Fachry Ali, 1986). Dalam konteks pemahaman dan pandangan semacam inilah posisi narendra dan kraton menjadi sangat penting. Seperti telah dikemukakan di atas, narendra merupakan pusat mikro kosmos kerajaan dan duduk di puncak hikaris status. Dengan demikian, narendra merupakan pusat perhimpunan kekuasaan. Narendra dalam hal ini dibayangkan sebagai “ pintu air yang menampung seluruh air sungai”. Dan bagi tanah yang lebih rendah, merupakan satu – satunya sumber air dan kesuburan”. Sementara kraton merupakan institusi pendamping dalam proses pemusatan itu. Sebab bagi kraton merupakan institusi pendamping dalam proses pemusatan itu.
Sebab bagi rakyat Jawa, kraton tidak hanya dihayati sebagai pusat politik dan budaya, melainkan juga sebagai pusat kramat kerajaan (Fachy Ali, 1986). Dengan latar belakang pemahaman serupa inilah kitab Wulangreh yang dibuat oleh Paku Buwana IV, narendra Surakarta harus kita hayati dengan seksama. Wulangreh merupakan salah satu percikan semangat ke kraton dan gambaran pemikiran narendra tentang masalah – masalah politik pemerintahan serta kekuasaan yang tidak terlepas dengan pandangan umum di atas.

C.  SERAT  PIWULANG
Hasil karyanya dalam bidang kesusasteraan di antaranya : Serat Wulangreh, Serat Wulang Sunu, Serat Wulang Putri, Serat Wulang Tata Krama, Donga Kabulla Mataram, Cipta Waskitha, Panji Sekar, Panji Raras, Panji Dhadhap, Serat Sasana Prabu, dan Serat Pola Muna – Muni. Paku Buwana IV dalam pandangan masyarakat Jawa namanya harum sekali (Darusuprapta, 1982 : 14).
Serat Wulangreh sampai saat ini sangat popular di lingkungan kebudayaan Jawa. Orang jawa sangat memperhatikan ajaran – ajaran dalam Serat Wulangreh itu untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari – hari. Ketajaman moral dan intelektual diperlukan agar manusia tepat dalam meniti karier hidup.
Kriteria guru yang baik menurut Paku Buwana IV disampaikan dalam Serat Wulangreh. Paku Buwana IV menganjurkan agar seseorang mencari guru yang mempunyai kejelasan asal – usul, baik martabatnya, tahu hokum, beribadah, bersahaja, pertapa, ikhlas, dan tanpa pamrih terhadap pemberian orang lain.
Sebagaimana yang diketahui, kitab yang selesai ditulis pada hari Ahad (Minggu) tanggal 19 Besar 1735 tahun Dal Windu Sancaya Wuku Sungsang atau tahun 1808 Masehi ini, pada mulanya merupakan serat wewelar (pedoman/penuntun) bagi para pangeran dalam bentuk Sekar Macapat atau nyanyian yang dimasukkan dalam rumpun Macapat (Fachry Ali, 1986). Sesuai dengan tujuan kitab ini sebagai penuntun, maka sesungguhnya kitab Wulangreh ini bisa kita pahamai sebagai sebuah “ ideology kraton “ yang lahir dari pengalaman – pengalaman pemikiran dan pemahaman seperti telah kita diskusikan di atas. Kebutuhan untuk mempertahankan ideology tersebut tampaknya sangat jelas terkait dengan situasi – situasi kekuasaan pada masa itu. Kita ketahui bahwa pada masa buku atau kitab ini ditulis, kesatuan, dan keutuhan kekuasaan Jawa sudah hampir berakhir.

D.  MENGUTAMAKAN  BUDI  PEKERTI
Sebuah upaya – upaya pembaharuan, bisa saja dimulai dengan niat atau hasil yang baik. Akan tetapi, seperti ungkapan dikutip di atas menyatakan, belum tentu akan berakhir dengan kebaikan pula. Juga, sesuai dengan logikanya, hal – hal yang sebelumnya dirasakan menyesakkan seperti keharusan untuk mengikuti seluruh ketentuan yang telah ditetapkan oleh traidisi bisa akan berakhir dengan baik. Dan esensi dari semua ini adalah pengabdian dan kepatuhan yang tulus terhadap tata nilai yang telah berlaku, pada mana konsep kebaktian merupakan inti dari kerangka tersebut (Fachry Ali, 1986). Mungkin, dalam perpektif yang semacam inilah, kita akan bisa meletakkan apresiasi yang proporsional terhadap kitab Wulangreh yang lahir dua abad lampau. Dan sebagaimana telah dikatakan, kitab ini pada dasarnya berbentuk pantun atau syair.
Serat Wulangreh juga mengajarkan bahwa orang yang mengajarkan ilmu hendaknya juga berlandaskan dalil, hadis, ijma dan qiyas. Hal ini tentunya sesuai dengan tradisi yang diajarkan oleh pendidikan agama. Kalau tidak ada kaitannya dengan keempat landasan tersebut, maka pengetahuan yang diajarkan itu bisa terjerumus ke jurang kesesatan.
Kedaulatan Sunan di Surakarta sejak tahun 1749 boleh dikatakan sudah hilang. Pengaruh system administrasi kolonial Belanda semakin menguasai kehidupan politik Kasunanan Surakarta. Semua kegiatan Sunan harus mendapatkan persetujuan Kompeni, baik melalui Gubernur maupun Residen. Kawula dalem Kasunan Surakarta mempunyai dua majikan, yakni Belanda dan Sunan sendiri. System kontrak perjanjian yang diawali oleh Sunan Amangkurat I makin dimantapkan. System ini bukan merupakan simbiosis mutalistis, melainkan simbiosis parasitis. Setiap kali diadakan perjanjian terjadilah pula pengurangan kedaulatan di pihak Sunan. Kerajaan yang semula utuh meliputi Kutagara, Negara Agung, dan Mancanegara semakin dipersempit, khususnya terhadap daerah Mancanegara dan Negara Agung (Mulyanto, dkk, 1990).

E.     SARJANA  MARTAPI
Untung bahwa masyarakat di kampong – kampong masih mampu berswadaya dalam memelihara bahasa dan budaya Jawa, khususnya dalam peristiwa tradisional seperti : pernikahan, khitanan, sripah, atau kematian bahwa juga dalam waktu – waktu saresehan, arisan, kerja bakti yang selalu melibatkan warga atau panitia untuk memimpinnya, dan berbicara atau memberi pengumuman. Dalam komunikasi sering juga dipergunakan Bahasa Jawa di samping Bahasa Indonesia, bahkan kualitas bahasanya daripada di jalur normal SD – SMU. Mereka bekerja secara swasembada, tradisional, gotong royong, tanpa biaya yang berarti. Suatu kegiatan dan sumbangsih yang sangat dibanggakan (T. Hadiwirjanto, 2002).
Telah berlalu masa 12 abad, sebelum kedatangan “Islam”, yakni masa ketika Manusia Jawa belajar tentang kearifan hidup dari Hinduisme dan Buddhisme, tanpa kehilangan jati diri mereka. Yang demikian itu nampak dari bekas – bekas karya besar peninggalan mereka, yakni Candi Prambanan dan Borobudur. Ketika “ Islam “ dating, terjadilah goncangan wawasan kosmologis, sebagaimana nampak melalui moksanya Sabdo Palon, yang kelak akan datang lagi setelah masa 5 abad. Di dalam Serat Lambang Praja karya M. Ng. Mangunwijaya, masa kembalinya keseimbangan kosmologis tadi adalah juga masa kedatangan Ratu Adil, paksa Gara – gara dengan fenomena yang sangat menarik, yakni : Dangkalnya makna ajaran / aliran (kali ilang kedhunge), hilangnya gema ekonomis / berdagang di pasar (kadang) orang, serta kaum perempuan kehilangan harkat keempuannya (Damardjati Soepadjar, 2002).


BAB  II
AJARAN  HIDUP  SERAT  WULANGREH

A.    MEMAHAMI RAHASIA HIDUP
Serat Wulangreh ini mengurai kata hati, hendak meniru kepintaran pujangga. Namun ternyata mental masih muda, namun nafsu ingin dipuji, tak tahu banyak mentertawai. Maksa harus menggubah dengan bahasa lepas landas, tutur nan ditandingsaring. Tekun sabar mampu memadu agar gambaran hati menjadi cerah. Rahasia hidup ini sungguh susah, bila tak tahu, tak pantas dikata hidup, banyak nan mengaku dirinya paling baik, padahal belum mengenal rasa, rasa nan sejati, rasa sumbernya rasa, carilah agar sempurna, bagi hidupmu juga.
Di dalam Qur’an tempatnya sungguh, hanya insane terpilih nan pintar, selain dengan petunjukNya, tidak boleh sembarangan. Akhirnya takkan jumpa, makin tidak karuan, akhirnya tersesat bingung. Jeli, sempurnanya badan anda, pergilah berguru. Tapi bila Engkau berguru, carilah orang yang benar – benar, baik martabatnya dan mengerti hokum, yang beribadah suka tirakat, syukur mendapat petaka yang bertawakal, tak memikir pemberian orang. Kepadanyalah kau pantas berguru, demi meningkatkan ilmu.

B.     MEMPERTAJAM  MATA  BATIN
Latihlah dirimu agar budimu menjadi tajam. Janganlah hanya makan tidur saja. Jadikanlah sebagai tirakatmu, mengurangi makan dan tidur, dan janganlah pesta pora. Lakukanlah seperlunya tak berlebihan, tidak baik sifat pesta pora, akan mengurangi keselamatan batin. Apabila Engkau menjadi orang besar, janganlah Engkau gila hormat, janganlah dekat – dekat dengan pencolong yang buruk perilakunya. Orang muda kebanyakan mengikuti siapa yang menghadapinya, apabila yang menghadapinya banyak yang bangsat, tak pelak mereka akan menjadi jahat.



C.    MENGHINDARI  SIKAP  SOMBONG
Tingkah laku yang berlebihan tanpa peduli, disbanding – disaring – dikekeng, sudah terlambat digugat, kiat sembarangan pangkal celaka. Jangan sampai terlanjur, sembarang ulah yang tidak jujur, kalau kebablasan umat celaka tidak baik, hendaknya mencari petuah yang benar. Ada ungkapan : adiguna adigang adigung, yang adigang adalah kijang, adigung itu gajah, adiguna adalah ular, ketiganya mati bersama.

D.    KEWAJIBAN  ORANG  HIDUP
Baik dan buruk pantas Engkau ketahui adat kebiasaan supaya diperhatikan, sopan santun harap dipelajari siang malam. Yang buruk dengan yang baik, serta kecenderungannya sedikit jangan dilupakan, itu sarana yang benar tak boleh ditinggalkan.
Apabila ada manusia yang tak memperhatikan yang buruk dan yang baik itu tak pantas berkumpul dengan orang banyak. Orang pemberani itu bertingkah pola, tak tahu adapt, jangan didekati, jangan membahayakan. Watak manusia memang dapat dilihat dari gaya jalan duduknya, gaya tutur dan lagak bicaranya, semua itu pertanda yang pintar dan yang bodoh, yang tinggi dan yang rendah, yang miskin dan yang kaya.

E.     BERBAKTI  ORANG  TUA
Walaupun dari ayah ibu, kakek nenek, saudara, dan kerabat, kalau petuah tidak baik, tidaklah layak diikuti. Memang demikianlah watak itu. Meski orang tua kalau wataknya tak baik, tidak pantas diturut. Janganlah Engkau sekalian meniru perbuatan yang tak baik. Walaupun orang lain, kalau tutur katanya baik dan perbuatannya baik. Itu panas Engkau sekalian tiru, Nak, dan Bapak Ibu yang mempetuahi baik, hendaklah Engkau sekalian indahkan.
Anak yang tidak menurut nasihat orang tua, itu durhaka baik di dunia maupun di akhirat, akibatnya akan terbentur – bentur (celaka). Kepada semua anak cucu kelak, hendaklah berhati – hati, janganlah berani kepada ayah dan ibu. Ada pula bilangannya, Nak, lima limba sembahan yang akan diterangkan satu persatu sebagai berikut, Pertama, kepada ayah bunda, Kedua, kepada mertua suami – istri, Ketiga, kepada saudara tua, Keempat, kepada guru sejati, sembah Kelima, kepada Tuhan.

F.     MENGABDI  PADA  RAJA
Apabila Engkau mengabdi pada narendra lebih sulit, tidak boleh bimbang ragu harus mantap serta tunduk patuh kepada gusti, harus menurut seperintahnya. Sungguh narendra sebagai Wakil Yang Maha Kuasa, memerintah, menghukum, mengadili, sebab harus dituruti. Siapa yang tidak mengindahkan perintah sang Raja, berarti menentang kehendak Tuhan, sebab itu hai manusia, siapa hendak mengabdi kepada Raja, harus ikhlas lahir batin, jangan sampai mendapat kesukaran.


BAB  III
MENCAPAI  KESELERASAN  HIDUP

A.    MENGURANGI  MAKAN  TIDUR
Ada tiga macam lamaran, tapi yang terbesar dan ini dimaksud yang tiga perkara, janganlah memuji – muji, dan janganlah mencela benci. Dan janganlah mencela sembarang karya, dikit – dikit mencacat setiap perbuatan, tak sempat orang lewat. Dimasa saat ini agaknya biasa orang pintar mencela. Hanya perbuatan sendiri luput dari cemoohan, merasa benar sendiri, walaupun benar, kalau yang berbuat orang lain pasti dikatakan salah, itu umumnya, memakai benarnya sendiri.

B.     MENINGKATKAN  CIPTA  RASA
Sebaiknya Engkau sekalian meningkatkan cipta rasa, upayakanlah lebih berhati – hati, jangan bisa bicara, kalau tak layak meski hanya sepatah kata. Harus cari waktu juga, tempat yang menyenangkan, dan janganlah tergesa – gesa bicara sebelum benar – benar jangan cepat – cepat mengucap kalau belum cocok dengan teman.
Dan lagi manusia itu jangan banyak bersumpah, itu mengotori badannya. Tapi manusia saat ini tidak hitung perkara, sumpahnya menjadi hari. Hendaklah berhemat bibir, jangan memperbanyak makian, ngomel – ngomel, malah ngobral keburukan orang.
Bikin salah menggunjing orang yang sama – sama melihat. Walaupun suaminya rela, yang mendengar ada yang menegur dalam batin tak percaya. Dalam batin ditanami rusak dalam hati banyak yang berjaga – jaga, jarang yang percaya batinnya, dalam hati memang kurang kepercayaan kepada majikan.

C.    HIDUP  RUKUN
Bersaudara itu walaupun sanak (bukan saudara dekat) hendaklah bersatu, jangan sampai retak. Apabila dalam segala aktivitas bersatu (rukun) dilihat akan baik. Berat ringan mempunyai sanak saudara, ringan apabila berpisah fakir tak jadi bersatu, berat bila saling membantu kehendak. Lebih berbobot orang – orang yang bersanak saudara.
Memang sulit ditakdirkan jadi tua, tidak boleh mempermudah semua saudara, tua muda, jangan dibedakan dalam melakukan pekerjaan. Yang rajin dan yang malas, baik Engkau ketahui, pujilah yang baik, sedang yang malas berilah peringatan.

D.    SATRIA  BERBUDI  MULIA
Orang yang bersyukur sebagai titah Allah bernasib buruk, dan ia menerima nasib buruknya itu, kemudian ia bisa dijadikan orang baik, sebaik – baik orang yang bersyukur itu. Seperti misalnya, orang yang mengabdi melamar kepada Raja, lama kelamaan kesampaian juga tujuannya (terkabul doa / permohonannya) menjadi “ mantri “ atau “ bupati “ dan lain – lain yang sesuai dengan idaman hatinya.

E.     MELAKSANAKAN  PERINTAH  SYARIAT
Sebaiknya Engkau sekalian melaksanakan semua perintah syariat, teruskan lahir batin, salah lima waktu, tak boleh ditinggalkan, sapa yang meninggalkannya akan merugi apabila Engkau sekalian masih suka hidup di dunia.
Manusia tanpa budi sungguh satria tak tahu abab (tata karma) mengandalkan satrianya, apabila ingin dihormati pakailah jajaran (kembaran), tapai kalau pergi menyamar jangan kamu suruh orang berjongkok. Hendaklah Engkau sekalian ingat nanda.

F.     MENGIKUTI  KEMAJUAN  JAMAN
Hati orang yang sudah tak mampu membendung kemajuan jaman, di mana karya dan ilmu bebas berpacu, gerak langkahnya harus disembunyikan. Jangan bodohnya diperlihatkan, agar menjadi sasaran hinaan. Suka gembira ia dihina oleh sesama. Saya pribadi pun tidak demikian, kebodohanlah yang saya tutup, kepintaran kutaruh dimuka, malulah kalau dikata bodoh oleh orang banyak, tetapi memang sebenarnya memang dungu, tak pelak merasa dan memang pintar berkicau.

G.    FATWA  PADA  PUTRA  WAYAH
Putra wayah harap indahkan fatwa petuah ayahmu, jangan ada yang lengah, terhadap ajaran orang tua, lahir batin pakailah petuah ayah, kuatkan hati kalian, teguhkan dalam nubari. Jangan ada yang kurang terima, dalam kepastian hidupmu, bahwasannya itu pemberian Tuhan, yang menciptakanmu dan waspada juga, asor luhur (kedudukan rendah tinggi), sehat sakit, dan bahagia celaka, hidup dan mati.
Yang sudah mengerti hikmah kitab, supaya Engkau sekalian mengetahui wajib dan jaisnya Tuhan dan wajib bagi hamba, serta mokalnya harap segera dipelajari, juga tata karma dan serengat juga dipelajari, dan batim haram tanyakan. Sunat dan wajib itu sarana sehari – hari, sebab itu supaya jelas, pertanyaan andapun harus jelas, sebab itu supaya jelas, pertanyaan andapun harus jelas, jangan bosan berkumpul bercakap – cakap dengan para ulama, dan orang – orang yang sudah dalam ilmunya ke Tuhanan.


BAB  IV
FILSAFAT  HIDUP  SERAT  WULANGREH

A.    PAMEDHARING  WASITANING  ATI
DHANDANGGULA
“ Pamedharing wasitaning ati, cumethaka atiru pujangga, dahat mudha ing batine, nanging kedah ginunggung, datan weruh yen keh kang ngesemi, ameksa angrumpaka, basa kang kalantur, tutur kang katula – katula, tinalaten rinuruh kalawan ririh, mrih padhanging sasmita “.

B.     PADA  GULANGEN  ING  KALBU
KINANTHI
“ Pada gulangen ing kalbu, ing sasmita amrih lantip, adja pijer mangan nendra, kaprawiran den kaesthi, pesunen sariranira sudanen nadhah lan guling “.

C.    SEKAR  GAMBUH  ING  CATUR
“ Sekar gambur ping catur, kang cinatur polah kang kelantur, tanpa tutur katula – tula katli, kadalu warsa katutuh, kapatuh pan dadi ewoh “.

D.    LELABUHAN  KANGGO  WONG  NGAURIP
PANGKUR
“ Kang sekar pangkur winarna, lelabuhan kang kanggo wong ngaurip, ala lan becik punika, prayugo kawruhana, adat waton puniku dipun kadulu, miwah ta ing tata karma, den kaesthi siyang latri “.

E.     WEWURUK  WATEKAN  BECIK
MASKUMAMBANG
“ Nadyan silih bapa biyung kaki nini, sadulur, myang sanak, kalamun wuruk tan becik nora pantes yen den nut a “.


F.     WONG  NGAWULA  ING  RATU
MEGATRUH
“ Wong ngawula ing Ratu luwih pakewuh, nora kena minggrang – minggring, kudu mantep sartanipun, setya tuhu marang gusti, dipun piturut sapakon “.


BAB  V
ETIKA  PEMERINTAHAN
SERAT  WULANGREH

A.    CEGAH  DAHAR  DAN  GULING
DURMA
“ Dipun sami amanting sariranira, cegah dahar lan guling, daraponsudaa, nefsu kang ngamra – ambra, rerema ing ing tya sireki, dadi sabarang prakaranira urip “.

B.     DEN  SAMYA  MARSUDENG  BUDI
WIRANGRONG
“ Den samya marsudeng budi, weweka dipun waspaos, aja dumeh sira bisa muwus, yen datan matetesi, sanadyan among sakecap, yen tan pantes pernahira “.

C.    LUWIH  BOBOT  WONG  DUWE  SANAK  SADULUR
PUCUNG
“ Kamulane kaluwak nonomanipun, pan dadi satunggal, pucung arane anenggih, yen wis tuwa kaluwake pisah – pisah “.

D.    ANTENG  JATMIKA  ING  BUDI
MIJIL
“ Poma padha dipun enget kaki, ing pitutur ingong, sira uga satriya arane, kudu anteng jatmika ing budi, ruruh sarta wasis, samubarangipun “.

E.     NETEPI  PARENTAHING  SYARIAT
ASMARADANA
“ Padha netepana ugi, kabeh parentahing syariat, terusna lahir batine, salat limang wektu uga, tan kena atinggala, sapa tinggal dadi gabug, yen maksih remen neng praja “.


F.     TAN  NGENDHAK  GUNANING  JALMI
SINOM
“ Ambeke kang wus utama, tan ngendhak gunaning jalmi, lan maguna ing aguna, sasolahe kudu bathi, pintere denalingi, dodhone dineke ngayun, pamrihe den inaa, mring sasepadhaning jalmi, suka bungah den ina sapadha – padha “.

G.    WEJANGAN  KAGEM  PUTRA  WAYAH
GIRISA
“ Anak putu den estokna, warah wuruhe si bapa, ajana ingkang sembrana, barang wuruke wong tuwa, ing lair batine bisa, anganggo wuruking bapa, ing tyas den padha santosa, tegehena jroning nala “.


BAB  VI
WARISAN  LUHUR  KRATON  SURAKARTA

A.    MAKNA  SIMBOLIK  KRATON
Kraton bagi orang Jawa mempunyai makna yang sangat dalam. Orang Jawa menganggap Kraton sebagai pusat kosmos. Mengungkap permasalahan kehidupan kraton tidak dapat dipisahkan dari persoalan sumber legitimasi kekuasaan raja.
Suatu cerminan hubungan patron – client relation ship yang dalam bahasa politik kerajaan Jawa disebut sebagai manunggaling kawula Gusti. Konsep seperti  itu akan selalu muncul saat mencoba melihat kerajaan Jawa, sebagai konsep lama yang mengacu pada masa kekuasaan dinasti Mataram. Ratu binathara memiliki tiga macam wahyu, yaitu wahyu nubuyah, wahyu hukumah, dan wahyu wilayah.

B.     PENENTUAN  IBUKOTA  KRATON
Ahli kebatinan terlibat aktif dalam menentukan ibukota kraton. Setelah Paku Buwono I meninggal pada tahun 1719, pecah lagi perebutan tahta di antara anggota keluarganya yang menentang penggantinya yakni Sunan Prabu. Kesempatan ini pun dipergunakan oleh VOC untuk menanamkan kekuasaannya di Mataram. Belanda mengirim pasukan militer ke Kartasura dan menumpas para penentang Sunan.
Perlawanan terhadap kekuasaan Belanda belum padam. Pada tahun 1970 pecah keributan antara orang Tionghoa dengan Belanda yang menjalar dari Batavia ke Jawa Tengah. Di Batavia, lebih dari 10.000 orang Tionghoa mati terbunuh oleh Belanda. Akibat peristiwa itu, Kraton Mataram yang beribukota di Kartasura mengalami kekacauan. Paku Buwono II tidak dapat mengatasi kerusuhan yang timbul akibat adanya aliansi antara elit bangsawan oposan dengan para pengusaha Cina. Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Geger Pecinan.



C.    NUANSA MAGIS BANGUNAN KRATON
Suluk budhalan di atas banyak mengungkapkan estetika keprajuritan. Barisan prajurit yang gegap gempita perlu ada kostum busana yang indah. Keindahan busana yang gemerlapan itu diibaratkan dengan matahari terbit dari samudra. Sinar matahari yang hendak menerangi alam raya itu mengenai puncak gunung – gunung. Warna kemerah – merahan akibat cahaya sang surya berbauran dengan mega.

D.    UPACARA  PASEWAKAN  AGUNG
Pada jaman Sinuwun Paku Buwana IV, yaitu cara memajukan diri tidak seperti jaman saat ini yang banyak didirikan sekolah – sekolah. Pada waktu itu orang harus mencari guru, dan biasanya disebut ngelmu, jadi bukan ilmu. Perbedaan ilmu dan ngelmu, sebenarnya terletak pada unsur dasarnya. Bersifat rasional dan irasional.


BAB  VII
SABDA  PANDHITA  RATU
SATUNYA  KATA  DAN  PERBUATAN

A.    KONSEP  PANDHITA  RATU
Konsep Pandhita Ratu menempati posisi yang penting dalam kebudayaan Jawa. Kraton Surakarta telah melahirkan para narendra yang aktif sekali dalam mengembangkan sastra dan budaya. Bahkan narendra sendiri terjun langsung dalam dunia karang mengarang.

B.     DARI  KARTASURA  KE  SURAKARTA
Deduga lawan payoga (ukuran – ukuran kemungkinan atau pengkira – kiraan dan penyeyogyaan). Setiap perbuatan dan tingkah laku janganlah terlepas dari duga dan prayoga. Duga artinya pengiraan yang berdasarkan ukuran, jadi bukan kepastian.

C.    PENERAPAN  KONSEP  SATRIA  PINANDHITA
Menurut Paku Buwana IV, di dunia ini terdapat urut – urutan kebaktian bagi orang hidup yang terdiri dari : kepada ayah dan ibu, kepada ayah dan ibu mertua, kepada saudara tua, kepada guru sejati, kepada gustinya.

D.    GELAR  NARENDRA  MINULYA
Gelar narendra Minulya dalam sejarah diperuntukkan buat Sinuwun Paku Buwana IX dan Sinuwun Paku Buwana X. Paku Buwana IX adalah putra kelima Paku Buwana VI. Ibunya bernama GKR Hemas. Ketika lahir, Paku Buwana VI sudah diasingkan ke Ambon, sebab terlibat mendukung perjuangan Diponegoro.